TENTANG

Berita Terkini

Bola

ShowBiz

Bisnis



Topik Populer

Featured

Liputan9

Liputan9
Liputan9

KAJIAN ISLAMI

KATEGORI

Berita Terbaru

NAHDLATUL ULAMA

Follow Us

banner here

KONTEN TERBARU

TREN HARI INI

Empat Pertanyaan Yang Mengurangi Kesempurnaan Iman

Ada sebuah faidah yang ditulis oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja, yang isinya mengenai pertanyaan-pertanyaan yang tidak boleh terbesit baik dalam hati maupun ucapan. Sebab jika pertanyaan tersebut diajukan, maka bisa mengurangi kesempurnaan iman. Mengenai Empat Pertanyaan Yang Mengurangi Kesempurnaan Iman, kita dilarang mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan atau bahkan mempertanyakan dengan pertanyaan tersebut, sebagaimana dikutip dari kitab beliau,

“Barang siapa yang meninggalkan empat pertanyaan (berikut) maka sempurnalah imannya. Yakni ‘dimana’, ‘bagaimana’, ‘kapan’, dan ‘berapa’ (yang disandarkan kepada Allah)”.

Empat Pertanyaan Yang Mengurangi Kesempurnaan Iman

Pertanyaan pertama yakni “Dimana”. Ini merupakan sebuah pertanyaan yang isinya menanyakan lokasi atau tempat keberadaan. Jika disandarkan pada Allah maka pertanyaan ini menjadi seperti berikut, “Dimanakah Allah berada?”. Dan pertanyaan ini tidak sepantasnya terbesit dihati seorang hamba yang beriman. Sebab pertanyaan ini adalah pertanyaan keliru. Karena Allah SWT merupakan dzat yang ada tanpa tempat.

Allah SWT tidaklah butuh terhadap tempat dan juga tidak terikat dengan waktu. Sebab jikalau Allah SWT membutuhkan tempat untuk tinggal dan berdiam diri, maka hal itu berarti Allah SWT sudah tidak Maha Kuasa lagi karena telah butuh terhadap suatu perkara lain, yakni dalam hal ini tempat. Jika Allah membutuhkan perkara lain itu berarti Allah tidak Maha Kuasa dan tidak berdiri sendiri. Sedangkan hal demikian adalah mustahil bagi Allah SWT.

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ
Artinya: “..Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. AL-Ankabut: 6)

Pertanyaan kedua yakni “Bagaimana”. Ini merupakan sebuah pertanyaan yang isinya meminta penjelasan sifat, bentuk, atau keadaan dari sesuatu. Jika disandarkan pada Allah maka pertanyaan ini menjadi seperti berikut, “Bagaimanakah Allah?”. Dan pertanyaan ini tidak sepantasnya terbesit dihati seorang hamba yang beriman. Sebab pertanyaan ini adalah keliru. Karena Allah SWT merupakan dzat yang tidak bisa digambarkan dan diserupakan dengan segala sesuatu apapun. Jika misalnya kita menjawab, “Allah itu seperti angin yang tidak bisa terlihat,” maka jawaban ini adalah salah. Karena Allah tidak sama dengan apapun, termasuk dengan angin.

Sebab jika Allah menyamai sesuatu, lantas apa bedanya Allah dengan sesuatu tersebut? Sedangkan “sama” artinya “tidak ada bedanya” atau “tidak jauh beda”. Jika kemudian Allah SWT ada yang menyamai atau menyerupai, itu sama saja dengan Tuhan ada yang menyamai dan menyerupai. Sedangkan hal tersebut tidak mungkin terjadi. Sebab Tuhan mestilah Dzat Yang Maha Esa serta Maha Luhur. Jika ada yang menyamai atau menyerupai, itu berarti keluhuran Tuhan ada yang menyamai dan menyerupai.


لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ 
Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat” (QS. As-Syura: 11)

Pertanyaan ketiga yakni “Kapan”. Ini merupakan sebuah pertanyaan yang isinya meminta penjelasan mengenai masa dan waktu. Jika disandarkan pada Allah SWT maka pertanyaan ini menjadi seperti berikut, “(Sejak) kapan Allah (ada)?”. Dan pertanyaan ini tidak sepantasnya terbesit dihati seorang hamba yang beriman. Sebab pertanyaan ini adalah keliru. Karena Allah SWT merupakan Dzat Yang Maha Awal dan tidak ada start untuk adanya Allah. Intinya Allah awal tanpa mula. Bahkan akhir tanpa ujung. Beda dengan manusia serta makhluk lainnya yang ada namun keberadaanya memiliki mula dan pasti berakhir pada sebuah ujung.

Sebab kalau Allah SWT ada namun memiliki awal permulaan, tentu Allah SWT harus ada yang menciptakan. Sebab sesuatu yang memiliki mula (yakni sesuatu yang baru) Harus ada yang menciptakan. Ibarat adanya semut, tentu harus ada mula dan sebab yang menciptakannya. Bila Allah SWT ada yang menciptakan itu jelas mustahil.


هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡأٓخِرُ 
Artinya: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir...” (QS. Al-Hadid: 3)

Pertanyaan keempat yakni “Berapa”. Ini merupakan sebuah pertanyaan yang isinya menanyakan kuantitas atau jumlah. Jika disandarkan pada Allah maka pertanyaan ini menjadi seperti berikut, “Berapakah Allah?”. Dan pertanyaan ini tidak sepantasnya terbesit dihati seorang hamba yang beriman. Sebab pertanyaan ini adalah pertanyaan keliru. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Satu. Jika Allah (Tuhan) memiliki jumlah yang banyak semisal lebih dari satu, itu adalah sesuatu yang mustahil. Mengapa mustahil? Sebab akan terjadi tumpang tindih kekuasaan, keagungan, kehendak, serta hal-hal lainnya.

Jika misalkan tuhan yang satu menghendaki hujan sedangkan tuhan yang lain menghendaki cuaca panas, lantas apa jadinya hal demikian? Tentu akan memunculkan tumpang tindih yang pada akhirnya menimbulkan pertentangan dan ketidakseimbangan pada alam semesta ini. Namun, saat ini kita menyaksikan alam semesta berlangsung pada sebuah sistem yang tertib. Ini menunjukan bahwa Tuhan itu ada satu, yakni Allah SWT.

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
Artinya: “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Baca kembali Empat Pertanyaan Yang Mengurangi Kesempurnaan Iman
Oleh: Rifqi Marzooqie bin KH. Amin B.
PP As-Salafiyah Mafazah Bandung Barat
05/01/2015

Bagikan: